26 Apr 2022

Work-Life Harmony

Saya lebih senang menyebutnya begitu ketimbang memikirkan untuk membuat pekerjaan dan kehidupan seimbang.

Balancing membuat kita memberikan ukuran untuk bekerja dibandingkan dengan yang lainnya. Membuat kita memisahkan antara keduanya, seolah “work is bad” dan “life is more fun”. Membuat seolah kita mengorbankan kehidupan personal untuk bekerja. Membuat kita merasa tak kan bahagia sampai keduanya seimbang.

What if I can have fun at work and at the same time feel contented with my life? Menjadikan pekerjaan as part of my joyful life?

Bisa kan?

Saya jadinya tak perlu meyakinkan diri saya setiap membuka mata di senin pagi bahwa “I love Monday”, dan di penghujung pekan saya bersorak “AUJ”! alias Alhamdulillah Udah Jumat!.

Mengapa tidak saya berbahagia tiap hari, hari apapun itu. Apakah itu hari kerja ataupun hari yang banyak orang sebut sebagai hari libur?

Bisa kan?

Hidup ini kompleks. Banyak perubahan mengitari hidup kita. Menemukan balance seolah kita bagaikan pungguk merindukan bulan ~ karena tak kan pernah tercapai keseimbangan itu. Bikin frustasi.

Mengapa tidak kita mengubah program di kepala kita, menjadikan “harmony” sebagai pengganti “balance” tadi.

Feel the joy at work, Feel the joy at home.

But, how to?

Mungkin Anda bergumam seperti itu.

Ketika bicara harmony, kita tidak akan bicara sepotong-sepotong. Kita akan bicara tentang keseluruhan. Tentang menemukan irama terindah yang disatukan, seolah kita mendengarkan paduan suara dengan harmonisasi nada yang indah.

Work-life harmony sesungguhnya adalah program yang kita tanamkan di mindset kita. Program yang kemudian akan membantu kita mengelola attitude, energi dan waktu sebaik mungkin.

Work-life harmony adalah tentang alignment, interconnection – tidak memisahkannya tapi menikmatinya sebagai bagian dari perjalanan keseharian kita, tanpa beban dikeduanya. Bagaikan menyatukan kepingan potongan puzzle untuk menemukan satu keindahan.

Ketika “balance” adalah tentang what to balance?, when to balance? dan how to balance?, maka “harmony” adalah tentang why you are doing what you are doing?, who you are when you are doing it?

Coba anda renungkan pertanyaan tadi dan lihat apa yang menjadi berbeda di mindset Anda.

Ubah perspektif Anda tentang bekerja and have Passion for what you do.

Fokuslah pada hal yang penting, atur prioritas Anda dengan baik. Bersikap asertif menolak yang tak perlu, lakukan yang perlu dilakukan dan lakukan secara efektif sehingga anda punya lebih banyak waktu yang lowong untuk memberikan perhatian pada keluarga di tengah seluruh aktivitas kerja Anda.

Berpikir dan bertindak fleksibel. Mencari solusi dan minta bantuan jika memang membutuhkan. Bangun support system yang kuat dan jadikan mereka bisa diandalkan.

Stop merasa bersalah dan harus merasa semuanya harus sempurna. Kata “harus” itu akan melelahkan Anda. Ketika kita menggantinya dengan “berusaha”, maka continusly kita akan go easy with ourself. Kita bukan superman yang bisa melakukan semuanya sekaligus. Be realistic about what is achievable.

Percayalah, any time could be a quality time.

Ngobrol di meja makan bersama keluarga di pagi hari akan sama kualitasnya dengan liburan akhir tahun jika kita mencurahkan perhatian kita sepenuhnya. 

Waktu yang kita habiskan di pekerjaan akan terasa berkualitas dan dijalani tanpa beban jika kita pun mencintai apa yang kita kerjakan.

Dalam salah satu artikel yang pernah saya baca, Jeff Bezos pernah berucap, “If I am happy at work, I am better at home – a better husband and a better father. And if I am happy at home, I come to work more energized – a better employee and a better colleague.”

Hidup cuma sekali. Jadikan itu berarti.

Atur dengan baik mindset dan manajemen diri.

Jadikan seluruh aspek hidup dalam satu harmoni.

Fauziah Zulfitri, PCC
Founder & Director, Insight Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *